Diagnosis Alergi Obat

Diagnosis alergi obat yang dilakukan untuk mengetahui bagaimana caranya mendeteksi seseorang alergi terhadap obat adalah dengan pemeriksaan fisik. Pasien alergi obat biasanya lebih gampang mendeteksi alergi terhadap obat dengan pemeriksaan fisik. Biasanya ada riwayat dari penggunaan  obat-obatan yang mudah menyebabkan alergi terhadap antibiotika golongan penisilin, seperti amoksisilin, ampisilin, dan kotrimoksazole.

Namun sebaliknya, apabila pasien tidak memiliki riwayat mengonsumsi obat penyebab alergi tersebut maka ada kemungkinan alergi tersebut tanpa bisa dideteksi sebelumnya.

Pemeriksaan yang dilakukan untuk menunjang diagnosis alergi obat dapat dilakukan berupa peemeriksaan penunjang seperti skin test. Pada test ini obat yang diberikan kepada anda dalam jumlah sedikit dan aman pada pasien untuk menilai adanya reaksi alergi atau tidak. Ada juga tes lain yang meski jarang dilakukan yaitu biopsi kulit dan physical challenge test. Alergi obat sebaiknya jangan disepelkan. Meski kerap dianggap sebagai gangguan yang enteng, kelainan alergi juga bisa mengakibatkan efek yang berat seperti Steven Jhonson Syndrome (SIS). Penyakit SJS ini merupakan bentuk parah dari alergi , yang salah satunyab dapat disebabkan oleh obat. Kulit pasien menjadi melepuh (seperti trebakar), dan dapat pula mengenai mukosa tubuh, seperti pada bibir, kemaluan, dan saluran napas. Penyakit ini dapat berakhir pada kematian.

Istilah alergi obat memang tidak sefamiliar alergi lainnya. Karena minimnya pengetahuan, kasus alergi obat, terlebih jika mengakibatkan efek berat semisal SJS kerap menjadi bahan adual malpraktik pada sang dokter. Ini diakibatkan kurangnya komunikasi yang baik antara dokter dengan pasiennya. Dokter sebelum memberikan obat harus menggali informasi dari  pasien tentang riwayat alergi baik terhadap obat maupun terhadap bahan lain. Apabila ditemukan adanya riwayat alergi, dokter harus lebih berhati-hati dalam memilih dan memberikan obat pada pasien tersebut.

Diagnosis Alergi Obat 

Sebelum memberikan obat-obatan yang sekiranya berpotensi tinggi menimbulkan alergi, dokter harus melakukan tes terlebih dahulu. Pasien juga tidak kalah berperan. Pasien di tuntut memberikan informasi yang jelas kepada dokter tentang riwayat alergi yang dimilikinya. Ini dilakukan agar dokter lebih berhati-hati dalam meresepkan obat. Dengan penggalian informasi yang akurat pada pasien disertai pemeriksaan fisik yang dilakukan, alergi obat menjadi lebih mudah dikenali oleh dokter.

Tujuan utama anda melakukan diagnosis alergi obat adalah mengenali alergen. Alergen bisa dari obat jenis apa saja. Tes kulit dangat memiliki manfaat yang baik untuk anda dapat menentuka alergen.

Obat yang biasanya digunakan untuk menghalangi respon dari alergi yang sudah di diagnosis alergi obat  dan juga dapat digunakan untuk meringankan gejalanya seperti:

Imunoterapi (suntik alergi) yang dilakukan jika anda tidak dapat menghindari alergen disekitar anda. Setelah dilakukanpenyuntikan imunoterapi ini ada babarapa hal yang dapat terjadi pada anda seperti bersin-bersin, betuk, kemerahan, kesemutan, gatal-gatal, rasa sesak di dada, dll.

Antihistamin adalah obat yang paling sering digunakan untuk mengatasi alergi yang terjadi pada diri anda yang diberikan setelah diagnosis alergi obat dilakukan.

Diagnosis alergi kulit adalah diagnosis yang dilakukan setelah ada reaksi alergik pada kulit yang terjadi sebagai akibat dari pemberian obat yang biasanya sistematik. Diperkirakan kejadian alergi obat adalah 2% dari total pemakaian obat atau sekitar 15-20% dari keseluruhan efek samping yang didapat dari pemakaian obat-obatan

Jenis obat yang akan menyebabkan anda mengalami alergi pada obat sangatlah berfariasi dan berbeda menurut waktu, tempat, dan jenisnya. Tingkat angka kejadian alergi obat yang tampak memiliki hubungan erat dengan kekerapan anda saat pemakaian obat. Adanya diagnosis yang menunjukkan alergi obat ini diduga risiko terjadinya reaksi alergi sekitar 1-3% terhadap sebagian besar golongan pinisilin, sulfa, salisilat, dan pirazolon.

Obat lain yang sering dilaporkan menjadi pemicu alergi adalah analgetik lain seperti asam mefenamat, antikonvulsan (dilantin, mesantoin, tridion), sedatif (terutama luminal) dan trankuilizer (fenotiazin, fenergan, klorpromazin, meprobamat).

Faktor resiko diagnosis alergi obat adalah:

  1. Sistem imunitas yang lebih udah terjadi pada seseorang yang mengalami penurunan sistem imun
  2. Usia yang sering mengalami alergi obat adalah semua golongan terutama pada anak-anak dan orang dewasa. Pada anak-anak biasanya disebabkan karena perkembangan sistem imunologi yang belum begitu sempurna. Dan sebaliknya pada orang dewasa alergi yang disebabkan karena lebih sering berkontaminasi dengan bahan antigenetik.
  3. Infeksi dan keganasan yang menjadi mortalitas tinggi yang sering ditemukan pada penderita alergi obat.
  4. Atopik adalah salah satu resiko yang bersifat atopik ini masih dalam perdebatan.
  5. Jenis kelamin yang mempunyai resiko paling tinggi untuk mengalami alergi obat adalah wanita dibandingkan dengan pria.
  6. Dosis yang disebabkan karena pemberian obat yang intermitten dengan dosis yang tinggi akan memudahkan untuk timbulnya sensitisasi pada tubuh kita. Tetapi, jika sudah melalui fase induksi, dosis obat yang sangat kecil sekalipun sudah dapat menimbulkan reaksi alergi pada obat.

Tanda dan gejala yang muncul pada saat diagnosis alergi obat adalah:

Bercak merah yang muncul akibat dari barbiturate yang mungkin terdapat pada telapak tangan dan kaki penderita alergi. Dan biasanya berupa eritema atau morbeliform yang kadang-kadang disertai dengan rasa mual dan demam, limfadenopati dan nyeri pada mulut anda.


=====================================

>>> Kapsul Herbal Obat Alergi Membantu Meredakan Gejala Alergi Kulit, Alergi Dingin, Alergi Makanan & Alergi Debu, Klik Detail Disini!
=====================================


This entry was posted in Obat Alergi and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *